Curahan Perasaan
Kamis, 15 September 2016
Aku baru saja terlepas dari segenggam penderitaan...
Aku hancur, perih dan pedih menyiksa bantin!
Kebaikan, sikap selalu mengalah, perasaan tulus yg kuberikan tidak dihargai!
Hingga aku tiba disuatu pemikiran, bahwa aku harus melepaskan seusatu yang ingin pergi.
Saat melepaskan dan berusaha untuk melupakan, di sisi yang lain aku juga sedang berusaha fokus mengagumi sesuatu yang sudah lama kukagumi.
Kagum, suka, dan aku sadar bahwa aku mulai menyayanginya...
Kita terjatuh di lobang yang sama, sama-sama merasa jatuh cinta.
Sempat terlintas dipikiranku, bahwa dia adalah salah satu sahabat terbaikku.
Namun kutemukan jarak yang agak jauh untuk kita mengatakan bahwa kita adalah sahabat.
Seperti ada sesuatu yang menjadi penghalang, dan penghalang itu adalah perasaan kita sendiri.
Tuhan mengizinkan kami untuk saling mengetahui kekaguman satu sama lain, tetapi juga Tuhan mengizinkan kami untuk mulai memadu kasih.
Setiap hari aku semakin jatuh cinta kepadanya.
Dia sangat pandai membuatku tersenyum bahagia.
Kita terus saling mempelajari perilaku satu sama lain.
kita terus mengukir cerita bahagia dan cerita yang menyedihkan tentang kita.
Hingga tiba saatnya...
Di mana kebahagiaan yg kudapatkan dan mulai kugenggam, ingin dilepaskan orang.
Dia adalah asalan!
Alasan aku tersenyum, alasan aku bahagia, alasan aku cemberut, alasan aku menangis.
Aku mulai bahagia hidup bersamanya.
Sebagai yang kalian sayangi, mengapa kalian ingin merebut kebahagiaanku?
Tidakkah bisa kalian biarkan aku untuk bahagia?
Kisah hidupku sebelumnya begitu memiluhkan, sakit, pedih, hancur, bagaikan hidup tanpa arah. Aku merasakan hal itu!
Kini...
Seolah-olah kalian ingin aku kembali ke masa itu! Masa yang sangat sulit untukku.
Bahkan siuasi saat ini, mengindikasikan bahwa kesulitan di masa lalu tidak ada apa-apanya dibanding siksaan saat ini!
Bukan kalian, tapi aku yang merasakannya!
Bagaimana bisa...
Orang yang aku cintai dan yang mencintai aku.
Kita yang sedang merajut cinta dengan baik, yang berjalan pada jalan yg baik, kemudian ingin dipisahkan.
Kami yang berdiri di sini, saling berpegangan tangan, mencoba untuk tidak saling terlepas.
Meskipun dari sisiku, aku sakit, dan aku mulai terluka. Mereka mencoba menarikku dengan keras.
Tapi aku tahu, aku bisa bertahan, masih kuat menggenggam tanganmu.
Karena aku tahu, kau akan tetap memegang erat tanganku dan akan tetap kuat berdiri di sini.
Kulihat juga, kau mulai memagari tempat kita berdiri dengan keyakinan, dengan cinta yang tulus, dengan semangat, dan doa yang kamu dan aku selalu panjatkan.
Kita bertahan karena kita tak bisa menjauh.
Jika memang kita tak kuat lagi menahan ini semua, kita harus saling melepaskan genggaman ini.
Dengan begitu kita impas. Tidak ada yang melukai dan dilukai. Yang ada hanya kita sama-sama berhenti untuk terluka.
Langganan:
Postingan (Atom)